Resensi Novel Bidadari Bidadari Surga

Judul Buku : Bidadari Bidadari Surga

Penulis : Tere Liye

Penerbit : Republika

Percetakan : Tamaprint Indonesia
Cetakan 1, Juni 2008
Cetakan 13, Februari 2013

Tebal Buku : 365 halaman 20.5 x 13,5 cm

Novel ini menceritakan tentang kisah kehidupan sebuah keluarga yang berada di lembah lahembay, lembah terpencil. Cerita yang begitu menyentuh, menginspirasi, dan mengharukan. Keluarga ini terdiri dari seorang Mamak, dan lima orang anak. Anak pertama bernama Laisa, kedua Dalimunte, ketiga Wibisana, keempat Ikanuri dan terakhir Yashinta. Laisa adalah seorang kakak tertua yang sangat menyayangi adik adiknya dan Mamaknya. Dia bahkan rela putus sekolah saat kelas empat Sekolah Dasar demi membantu Mamaknya mencari uang untuk sekolah adik-adiknya.

Kak Laisa selalu bekerja keras, selalu meneriaki adik-adiknya untuk bersemangat dan rajin sekolah. Dia memberikan berbagai motivasi dan angan-angan yang begitu indah jika adiknya rajin belajar dan menjadi pintar. Dia menjajikan kehidupan yang akan lebih baik dan indah diluar sana jika mereka pintar. Meskipun tampilan fisik Laisa berbeda dari keempat adiknya yaitu rambut gimbal, hitam, jelek, dan gendut. Bahkan seringkali para tetangga mempertanyakan perbedaan fisik tersebut dan menganggapnya sebagai anaik angkat, namun Laisa tidak pernah menhiraukannya dia tetap berjuang demi adik-adiknya. Adik –adiknya sangat menyayangi, patuh, dan meneladani sikap Laisa. Dia selalu mengutamakan adik-adiknya, berjaung tanpa kenal lelah demi adik-adiknya, selalu datang disetiap adik-adiknya membutuhkannya dan rela mempertaruhkan nyawanya demi adik-adiknya. Mereka juga tidak menghiraukan perbedaan fisik yang sangat menonjol antara mereka dengan Laisa.

Dalimunte adalah sosok seorang lelaki yang cerdas, penurut, dan lembut hatinya. Diantara semua adik-adik Laisa, Dalimunte adalah adiknya yang paling pintar. Sejak kecil dia bahkan mampu membuat penemuan-penemuan yang membantu kehidupan keluarga, bahkan bagi desanya. Semejak kecil nilai-nilai di sekolahnya dangat memuaskan dan selalu menjadi yang terbaik. Wibisana dan Ikanuri adalah dua diknya yang beda namun kembar. Hal ini disebabkan meskipun mereka terlahir berbeda sebelas bulan, namun watak, kebiasaan dan cara pandang mereka sangatlah mirip. Diantara keempat adiknya mereka berdualah yang paling bandel, cuek, nakal dan suka membolos sekolah. Namun, meskipun demikian mereka tidak berani membantah kata-kata Kak Laisa karena kecintaan dan pengorbanan kak Laisa. Adiknya yang terakhir adalah Yashinta, seorang gadis kecil yang cantik dan manis. Dia selalu ingin tahu tentang berbagai hal baru, terutama alam dan hewan-hewan lucu. Dia selalu meminta Kak Laisa mengantarkannya ke hutan untuk melihat berbagai hewan dan tumbuhan yang unik dan lucu. Meskipun dia lebih kecil dari Kak Laisa, namun kekuatannya melangkah dan menyusuri hutan lebih kuat dibandingkan keempat saudara lainnya.

Semenjak kecil perjalanan kehidupan mereka adalah kehidupan yang keras, dan penuh perjuangan. Mamaknya mencari nafkah sendirian dibantu Kak Laisa semenjak umurnya tujuh tahun ketika Babaknya meninggal dunia diterkam harimau. Sejak saat itu, Kak Laisa yang pernah dititipi pesan terakhir sebelum babaknya meninggal berjanji akan menjaga adik-adiknya dan bersumpah memberikan kesempatan kepada adik-adiknya untuk menjadi orang-orang yang hebat. Kak Laisa begitu banyak berkorban untuk keluarga ini. dia rela berhenti sekolah untuk adik-adiknya. Karena perjuangan dan kasih sayangnya itulah adik-adiknya dapat bersekolah hingga sarjana, bahkan Dalimunte menjadi seorang Profesor, dan Yashinta lulusan terbaik S2 di Belanda.

Selain pengorbanan untuk ke-empat adiknya, kak Laisa juga berjasa memajukan kampung Lembah Lahambay dengan perkebunan strawberry seluas puluhan hektar itu, hingga hampir separuh tanah desanya ditanami oleh strawbery miliknya. Selain itu dia juga membangun jalan di desanya, kemudian membangun sekolah untuk sekolah anak-anak di desanya.

Namun setelah banyak pengorbanan dan jasa-jasa yang Ia lakukan, masih begitu banyak masalah yang harus dihadapi Laisa, mulai dari tak seorang pun yang mau menikahinya, gunjingan orang-orang tentang ia yang dilintasi adik-adiknya, tentang penyakit kanker yang di deritanya dan masih banyak lagi dan semua itu hanya dijawab Laisa dengan senyuman dan keyakinan bahwa hidup, mati, rezeki dan jodoh ada di tangan Allah.
Hingga hari kematian Kak Laisa tiba karena kanker paru-paru stadium IV yang telah disembunyikan dari adik-adiknya selama sepuluh tahun, Allah belum juga menurunkan jodohnya ke bumi. Tapi Mamaknya yakin sekali bahwa Laisa adalah bidadari surga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s