Kerusakan Alam Membawa Bencana

Bencana bukanlah murka Tuhan. Bencana adalah akumulasi kerusakan alam. Contohnya, wabah ulat bulu terjadi belakangan ini akibat perubahan suhu yang mempercepat siklus kehidupan ulat dan berkurangnya predator.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana, jumlah bencana meningkat drastis mulai tahun 1998. Bencana yang paling sering terjadi sejak tahun 1815 hingga 2010 di Indonesia adalah banjir — 31 persen dari total kejadian bencana.

Perubahan iklim ditengarai berkontribusi dalam meningkatnya frekuensi bencana muncul. Berubahnya iklim global memicu banjir, longsor, kekeringan, badai, dan perubahan ekosistem darat maupun laut.

Perubahan iklim apa yang akan terjadi jika perusakan bumi terus dilanjutkan? Buku Climate Stabilization Targets menjelaskan, kadar CO2 dalam udara saat ini berada pada tingkat paling tinggi dalam 800 ribu tahun. Jumlah ini bisa bertambah dua kali lipat pada akhir abad ini. Padahal, karbon dioksida berperan dalam separuh efek rumah kaca. Jika hal ini terus terjadi, suhu bumi akan mengalami peningkatan secara global.

Setidaknya pada tahun 2100 seluruh es di Antartika akan mencair dan meningkatkan permukaan laut hingga 50 cm. Indonesia sebagai negara kepulauan akan sangat terpengaruh. Jika ini terjadi, banyak pulau yang akan hilang, banyak daratan di tepi pantai yang akan tertutup air sehingga tak bisa lagi dihuni. Musim menjadi tak bisa ditebak, dengan curah hujan yang meningkat dan makin berkurang pada beberapa daerah.

Sayangnya, pelestarian alam selalu berbenturan dengan kegiatan ekonomi. Rusaknya lingkungan tak jauh dari peran pemerintah yang masih kurang peduli. Alam belum menjadi pertimbangan penting dalam penerbitan Surat Kuasa Pertambangan, Hak Pengelolaan Hutan maupun Hak Pengelolaan Pesisir dan Perikanan.

Izin resmi ini tidak boleh digunakan sebagai pembenar perusakan alam. Kondisi lingkungan lokal sangat berpengaruh terhadap perubahan iklim bumi alias climate change.

Tak perlu menunggu, setiap orang bisa berpartisipasi menyayangi bumi dengan cara-cara yang sederhana. Misalnya dengan menanam pohon di lingkungan sekitar, mendaur ulang, mengurangi penggunaan plastik, hemat air dan menggunakan listrik dengan bijak. Menggunakan transportasi umum, sepeda atau berjalan kaki juga dapat menjadi pilihan mengurangi emisi bahan bakar.

Syaratnya, tindakan-tindakan itu harus menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari — bukan hanya dilakukan ketika memperingati Hari Bumi.

Apa yang sudah Anda lakukan?

3 Kerusakan Alam Terparah di Indonesia

1. Penambangan Emas Oleh Newmon* di Nusa Tenggara Barat

Kerusakan Akibat Penambangan Oleh PT. Newmon* Di Nusa Tenggara
Setelah dimulainya penambangan Emas oleh PT. Newmon* selama kurang lebih 20 tahun menyebabkan begitu banyak kerusakan alam yang dapat dilihat langsung dan juga menyebabkan kerusakan di laut dikarenakan pembuangan limbah ke laut dan lingkungan sekitar dimana limbah-limbah tersebut masih mengandung merkuri dan arsenik.

2. Penambangan Oleh PT. Freepor* di Papua

Aktivitas pertambangan PT Freepor* di Papua yang dimulai sejak tahun 1967 hingga saat ini telah berlangsung selama 42 tahun. Selama ini, kegiatan bisnis dan ekonomi Freepor* di Papua, telah mencetak keuntungan finansial yang sangat besar bagi perusahaan asing tersebut, namun belum memberikan manfaat optimal bagi negara, Papua, dan masyarakat lokal di sekitar wilayah pertambangan.

Freepor* telah membuang tailing dengan kategori limbah B3 (Bahan Beracun Berbahaya) melalui Sungai Ajkwa. Limbah ini telah mencapai pesisir laut Arafura. Tailing yang dibuang Freepor* ke Sungai Ajkwa melampaui baku mutu total suspend solid (TSS) yang diperbolehkan menurut hukum Indonesia. Limbah tailing Freepor* juga telah mencemari perairan di muara sungai Ajkwa dan mengontaminasi sejumlah besar jenis mahluk hidup serta mengancam perairan dengan air asam tambang berjumlah besar.

Dari hasil audit lingkungan yang dilakukan oleh Parametrix, terungkap bahwa bahwa tailing yang dibuang Freepor* merupakan bahan yang mampu menghasilkan cairan asam berbahaya bagi kehidupan aquatik. Bahkan sejumlah spesies aquatik sensitif di sungai Ajkwa telah punah akibat tailing Freepor*.

3.Kerusakan Terumbu Karang di Perairan Indonesia
TERUMBU karang di perairan Indonesia kerap disebut-sebut dalam kondisi rusak parah. Bila mengacu pada penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P3O-LIPI), terumbu karang yang hancur lebur mencapai hampir 50 persen, sedangkan yang masih sangat baik tinggal 6,2 persen. Kerusakan itu terutama disebabkan praktik pengeboman ikan dan pengambilan karang untuk bahan bangunan dan reklamasi pantai.
Kondisi rusaknya terumbu karang itu akan terasa makin memprihatinkan bila mendengar keterangan dari pakar terumbu karang, yang mengatakan bahwa pemulihan terumbu karang memakan waktu cukup lama, berpuluh hingga beratus tahun. Itu pun bila kondisi lingkungan di sekitarnya mendukung.Padahal, fungsi terumbu karang amat besar bagi kelangsungan hidup ikan dan beragam biota laut lainnya, mulai dari tempat mencari makan hingga berkembang biak. Oleh karena itu, rusaknya terumbu karang berarti juga menurunnya populasi ikan. Itu berarti pula berkurangnya pasokan ikan sebagai bahan pangan manusia. Manfaat lain dari terumbu karang adalah sebagai pelindung pantai dari abrasi.

Pemanasan Global

Pemanasan global atau Global Warming adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi.

Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Chang (IPCC) menyimpulkan bahwa, “sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.

Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100. Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.

Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrem, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.

Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.